Rabu, 20 Maret 2013

Adhitya Farisah



Metode Pengembangan Motorik Anak
Menurut Ani Yudoyono, PAUD asal mulanya untuk membantu anak yang menengah kebawah.
Pengertian Perkembangan
            Menurut Santrock (1995, 2007) perkembangan adalah pola perubahan yang dimulai sejak pembuahan dan terus berlanjut di sepanjang rentang kehidupan individu. Sebagian besar perkembangan melibatkan kemunduran/penuaan.
Harlock (1980) mengemukakan bahwa perkembangan merupakan serangkaian perubahan progresif yang terjadi sebagai akibat dari proses kematangan dan dialami oleh individu di sepanjang hidupnya ini mencakup dua proses, yaitu:
1.      Evolusi (pertumbuhan) dominan pada masa bayi dan kanak-kanak
2.      Involusi (kemunduran) dominan pada masa dewasa akhir.
Menurut Baltes (1987) perkembangan meliputi gains (growth) dan losses (decline), jadi di sepanjang hidup individu selain ada pertumbuhan juga ada penurunan.
Pengertian Motorik
            Istilah motorik menyiratkan adanya gerak otot, yang seakan-akan tidak banyak melibatkan aspek-aspek kognitif dan perceptual. Tetapi kenyataannya adalah keterampilan-keterampilan yang dilakukan biasanya merupakan sesuatu yang kompleks dan melibatkan pendeteksian terhadap rangsang, evaluasi dan pengambilan keputusan serta respon nyata berwujud gerakan.
            Motorik dapat di definisikan sebagai suatu peristiwa laten yang meliputi keseluruhan proses-proses pengendalian dan pengaturan fungsi-fungsi organ tubuh, baik secara fisiologis maupun secara psikis yang menyebabkan terjadinya suatu gerakan.
Keterampilan Motorik Kasar (Gross Motor Skill)
            Menurut Santrock (2007), merupakan keterampilan menggunakan otot-otot besar. Walaupun kematangan biologis sangat memengaruhi, tetapi keterampilan berjalan perlu dilatihkan. Latihan yang berulang dengan kondisi yang bervariasi akan sangat menolong bayi untuk mengenali kombinasi kekuatan dan keseimbangan tubuh yang diperlukan untuk meningkatkan keterampilannya dalam berjalan.



Keterampilan Motorik Halus (Fine Motor Skill)
            Menurut Papalia dkk (2008), keterampilan ini melibatkan gerakan tangan yang diatur secara halus seperti menggenggam mainan, mengancingkan baju, menulis, atau melakukan apa pun yang memerlukan keterampilan tangan. Saat lahir, bayi masih mengalami kesulitan mengendalikan keterampilan motorik halusnya. Awalnya bayi hanya memperlihatkan gerakan bahu dan siku yang kasar tetapi kemudian memperlihatkan gerakan pergelangan tangan, perputaran tangan, koordinasi ibu jari dan jari telunjuk tangan, serta kemampuan meraih dan menggenggam yang makin baik.
Perkembangan Motorik Kasar dan Perkembangan Motorik Halus

1.      Perkembangan Motorik Kasar
Tugas perkembangan jasmani berupa koordinasi gerakan tubuh, seperti berlari, berjinjit, melompat, bergantung, melempar dan menangkap,serta menjaga keseimbangan. Kegiatan ini diperlukan dalam meningkatkan keterampilan koordinasi gerakan motorik kasar. Pada anak usia 4 tahun, anak sangat menyenangi kegiatan fisik yang mengandung bahaya, seperti melompat dari tempat tinggi atau bergantung dengan kepala menggelantung ke bawah. Pada usia 5 atau 6 tahun keinginan untuk melakukan kegiatan berbahaya bertambah. Anak pada masa ini menyenangi kegiatan lomba, seperti balapan sepeda, balapan lari atau kegiatan lainnya yang mengandung bahaya.

2. Perkembangan Gerakan Motorik Halus
Perkembangan motorik halus anak taman kanak-kanak ditekankan pada koordinasi gerakan motorik halus dalam hal ini berkaitan dengan kegiatan meletakkan atau memegang suatu objek dengan menggunakan jari tangan. Pada usia 4 tahun koordinasi gerakan motorik halus anak sangat berkembang bahkan hampir sempurna. Walaupun demikian anak usia ini masih mengalami kesulitan dalam menyusun balok-balok menjadi suatu bangunan. Hal ini disebabkan oleh keinginan anak untuk meletakkan balok secara sempurna sehingga kadang-kadang meruntuhkan bangunan itu sendiri. Pada usia 5 atau 6 tahun koordinasi gerakan motorik halus berkembang pesat. Pada masa ini anak telah mampu mengkoordinasikan gerakan visual motorik, seperti mengkoordinasikan gerakan mata dengan tangan, lengan, dan tubuh secara bersamaan,antara lain dapat dilihat pada waktu anak menulis atau menggambar.

3. Perkembangan Otak dan Susunan Syaraf Pusat
Perkembangan otak manusia yang sangat pesat terjadi pada masa prenatal dan beberapa bulan setelah kelahiran pada masa sebelum kelahiran diperkirakan 250.000 sel-sel otak terbentuk setiap menit melalui proses pembelahan sel yang disebut mitosis. Setelah lahir sebagian besar sel-sel otak yang berjumlah 100 milyar terbentuk secara matang perkembangan yang dimulai dari atas yaitu kepala dan berlanjut secara teratur ke bagian bawah tubuh. Pada usia 4-5 tahun kepala anak hanyaberukuran seperlima dari ukuran tubuhnya dan pada usia 6 tahun kepada anak memiliki ukuran sepertujuh dari ukuran kepalanya. Pada usia 6 tahun anak telah memiliki proporsi tubuh yang akan mewarnai proporsi tubuhnya di masa dewasa. Secara normal bertambah tinggi badan selama masa kanak-kanak hanya sebanyak 2,5 inchi setahun dan berat badan secara normal hanya bertambah 2,5-3,5 kilogram setahun.

Prinsip-prinsip Perkembangan Fisiologis Anak Usia Taman Kanak-kanak
Prinsip utama perkembangan fisiologis anak usia dini adalah koordinasi gerakan motorik, baik motorik kasar maupun halus. Pada awal perkembangannya, gerakan motorik anak tidak terkoordinasi dengan baik. Seiring dengan kematangan dan pengalaman anak kemampuan motorik tersebut berkembang dari tidak terkoordinasi dengan baik menjadi terkoordinasi secara baik. Prinsip utama perkembangan motorik adalah kematangan, urutan, motivasi, pengalaman dan latihan atau praktek.
Teori Perkembangan Kognitif, dikembangkan oleh Jean Piaget, seorang psikolog Swiss yang hidup tahun 1896-1980. Teorinya memberikan banyak konsep utama dalam lapangan psikologi perkembangan dan berpengaruh terhadap perkembangan konsep kecerdasan, yang bagi Piaget, berarti kemampuan untuk secara lebih tepat merepresentasikan dunia dan melakukan operasi logis dalam representasi konsep yang berdasar pada kenyataan. Teori ini membahas munculnya dan diperolehnya schemata—skema tentang bagaimana seseorang mempersepsi lingkungannya— dalam tahapan-tahapan perkembangan, saat seseorang memperoleh cara baru dalam merepresentasikan informasi secara mental. Teori ini digolongkan ke dalam konstruktivisme, yang berarti, tidak seperti teori nativisme (yang menggambarkan perkembangan kognitif sebagai pemunculan pengetahuan dan kemampuan bawaan), teori ini berpendapat bahwa kita membangun kemampuan kognitif kita melalui tindakan yang termotivasi dengan sendirinya terhadap lingkungan. Untuk pengembangan teori ini, Piaget memperoleh Erasmus Prize. Piaget membagi skema yang digunakan anak untuk memahami dunianya melalui empat periode utama yang berkorelasi dengan dan semakin canggih seiring pertambahan usia:
  • Periode sensorimotor (usia 0–2 tahun)
  • Periode praoperasional (usia 2–7 tahun)
  • Periode operasional konkrit (usia 7–11 tahun)
  • Periode operasional formal (usia 11 tahun sampai dewasa)

Stimulasi Motorik Kasar dan Halus untuk Bayi dari Usia 0-3 bulan

Sebagai orang tua merupakan tugas kita untuk memberikan memberikan yang terbaik dalam proses tumbuh kembang buah hati tercinta. Agar keterampilan motorik bayi Anda tumbuh dan berkembang secara optimal, Anda perlu memahami tahap-tahap perkembangannya dan memberikan stimulasi atau rangsangan yg tepat sesuai tahap perkembangannya bayi Anda.
Hal ini penting karena jika terjadi keterlambatan atau gangguan pada kemampuan motoriknya bisa segera terdeteksi dan dikoreksi. Apabila hal ini tidak diperhatikan dan perkembangan motor bayi sudah terlambat sejak awal, maka keterlambatan itu akan merembet pada perkembangan motor lainnya.



A.    Perkembangan motorik Anak Usia 2-6 tahun.
Anak anak usia 2-6 thn mengalami kemajuan pesat dalam keterampilan motorik, baik keterampilan motorik kasar yang melibatkan otot-otot besar, seperti berlari, melompat, memanjat (walking,hopping,jumping), dan keterampilan motorik halus sebagai hasil koordinasi otot-otot kecil dengan mata dan tangan seperti menggambar, menggunting, dan menempelkan kertas.

a.       Keterampilan Motorik Kasar (Gross Motoric Skills)
Pada usia kira-kira 2,5-3 tahun, anak mulai dapat lompat dengan kedua kakinya, yang sebelumnya tidak bisa dilakukan karena berkaitan dengan kematangan otot-otot nya. Juga anak sudah dapat berlari ke sana kemari, tetapi belum mampu berhenti dengan tiba tiba atau membalik. Aktivitas – aktivitas ini merupakan sumber kebanggaan bagi anak. Sekitar usia 4thn sudah menguasai cara berjalan orang dewasa dan sudah dapat berlari, berhenti dan berputar membalik. Kemampuan berlari anak seperti orang dewasa dan berlari dalam aktivitas permainan, dapat dilakukan pada sekitar usia 5-6thn. Pada usia 4thn ini anak juga sudah mampu berdiri dia atas satu kaki dan menangkap bola yang dilemparkan kepadanya. Bila saat usia 3thn dapat melompat dengan jarak sejauh 15-24 inci (38-60cm),maka saat usia 4thn dapat melompat sejauh 24-33 inci (60-83cm). Usia sekitar 5thn makin menyukai kegiatan petualangan,misalnya memanjat dengan tangkas, berlari,melompat dan menyenangi aktivitas balapan dengan teman-temannya atau orang tuanya.

Masa kanak-kanak awal merupakan masa dimana anak-anak senang bergerak. Saat terjaga hampir seluruh waktunya digunakan untuk bergerak, seperti berlari,memanjat,melompat,melempar, menaiki tangga,menggantung,menggambar, dll. Dari seluruh rentang kehidupan, kegiatan bergerak yang paling banyak atau tinggi frekuensinya adalah pada usia 3thn. Mereka tampak gelisah (banyak bergerak saat menonton televisi, saat sedang dimeja makan, bahkan ketika tidur pun mereka bergerak-gerak. Saat usia 3thn ini anak-anak sangat menikmati gerakan-gerakannya,seperti meloncat dan berlari kesana kemari, hanya demi kesenangan murni melakukan aktivitas tsb dan sebagai sumber kebanggaan. Pada usia 4thn, anak anak masih senang melakukan aktivitas yang sama,tetapi mereka menjadi lebih suka berpetualang. Aktivitas dilakukan secara tangkas dan menunjukkan kemampuan atletisnya. Dengan aktivitas yang tinggi,anak-anak di usia prasekolah ini perlu melakukan olahraga yang sesuai dengan usianya, menari, dan aktivitas lain yang positif dan bermanfaat, olahraga yang sesuai merupakan ajang bagi anak-anak untuk belajar berkompetis, meningkatkan harga diri, serta mengembangkan hubungan dan persahabatan dengan teman sebaya. Saat usia sekitar 5 tahun, anak makin menyukai jenis kegiatan petualangan serta makin percaya diri dan berani melakukan adegan yang menakutkan, seperti memanjat tinggi, berlari cepat, dab menyukai racing(balapan) bersama teman sebayanya.

b.      Keterampilan Motorik Halus (fine motoric skills)
Dibandingkan dengan masa bayi, keterampilan motorik halus pada masa anak awal ini sudah meningkat.pada usia 3 tahun telah mampu memegang benda berukuran kecil di antara ibu jari dan telunjuk, walaupun masih agak kaku. Juga sudah dapat membangun menara dari balok-balok meski belum dalam posisi tegak lurus. Bila memasang potongan-potongan gambar dari permainan puzzle,gerakannya masih kasar dan sering kali memaksakan potongan gambar walaupun kurang atau cocok dengan tempatnya. Pada usia 4thn koordinasi motorik halusnya sudah mengalami kemajuan dan gerakannya sudah lebih tepat. Bahkan cenderung ingin sempurna dalam melakukan sesuatu,misalnya dalam menyusun balok-balok,sehingga mereka suka membongkar lagi balok balok yang sudah disusun sebelumnya. Saat usia 5thn koordinasi motorik anak makin sempurna. Tangan,lengan,dan jarinya semua bergerak bersama dibawah perintah mata. Bila menyusun balok-balok, anak tidak lagi membuat menara secara sederhana., yaitu dengan menyusun/menumpuk balok secara lurus saja.,tetapi anak ingin membangun sesuatu yang lebih lengkap/kompleks,seperti rumah atau gedung dengan menaranya. Pada usia 6thn, anak sudah dapat mengikat tali sepatunya, menggunakan martil/pukul besi,mengelem kertas dan merapikan bajunya sebagai akibat proses myelinisasi yang mengikat di sistem saraf pusat.


Sumber: Christiana Hari Soetjiningsih, Perkembangan Anak Sejak Pembuahan Sampai Dengan Kanak-Kanak Akhir





Rangkuman 2

MACAM-MACAM TEORI PERKEMBANGAN DAN PENERAPANNYA DALAM PROSES PEMBELAJARAN


A.TEORI PERKEMBANGAN
Teori adalah keyakinan umum yang membantu kita menjelaskan apa yang kita amati dan membuat prediksi. Teori yang baik memiliki hipotesis, yang merupakan asumsi yang harus diuji.Macam-macam teori perkembangan :

1.Teori-teori Psikoanalitis
Freud mengatakan kepribadian terdiri dari tiga struktur - id, ego dan superego - dan bahwa kebanyakan pemikiran anak-anak bersifat tidak disadari. Tuntutan struktur kepribadian yang saling bertentangan menyebabkan kecemasan. Mekanisme pertahanan, khususnya represi, melindungi ego dan mengurangi kecemasan. Freud yakin bahwa masalah berkembang karena pengalaman masa anak-anak sebelumnya. Ia mengatakan bahwa individu melampaui lima tahap psikoseksual - oral, anal, phallic, latency dan genital. Selama tahap phallic, Oedipus Complex merupakan sumber utama konflik.
Erikson mengembangkan suatu teori yang menekankan delapan tahap perkembangan psikososial : kepercayaan versus ketidakpercayaan; otonomi versus rasa malu dan ragu-ragu; prakarsa versus rasa bersalah; tekun versus versus rasa rendah diri; identitas versus kebingungan identitas; keintiman versus keterkucilan; bangkit versus mandeg; kepuasaan versus kekecewaan (keputusasaan).

2.Teori-teori Kognitif
Piaget mengatakan bahwa anak-anak melampaui empat tahap perkembangan kognitif, yaitu : sensorimotor, praoperasional, operasional konkrit, dan operasonal formal.
Teori pemrosesan informasi mengenai bagaimana individu memproses informasi tentang dunianya, yang meliputi : bagaimana informasi masuk ke dalam pikiran, bagaimana informasi disimpan dan disebarkan, dan bagaimana informasi diambil kembali untuk memungkinkan kita berpikir dan memecahkan masalah.

3.Teori-teori Perilaku dan Belajar Sosial
Behaviorisme menekankan bahwa kognisi tidak penting dalam memahami perilaku. Menurut B.F. Skinner, seorang pakar behavioris terkenal, perkembangan adalah perilaku yang diamati, yang ditentukan oleh hadiah dan hukuman di dalam lingkungan.
Teori belajar sosial yang dikembangkan oleh Albert Bandura dan kawan-kawan, menyatakan bahwa lingkungan adalah faktor penting yang mempengaruhi perilaku, tetapi proses-proses kognitif tidak kalah pentingnya. Menurut pandangan belajar sosial, manusia memiliki kemampuan untuk mengendalikan perilakunya sendiri.

4.Teori Etologis
Konrad Lorenz adalah salah seorang pengembang penting teori etologi. Etologi menekankan landasan biologis dan evolusioner perkembangan. Penanaman (imprinting) dan periode penting (critical periods) merupakan konsep kunci.
Garis besar teori ini mengatakan pada dasarnya sumber dari semua perilaku social ada dalam gen. ada instink dalam makhluk untuk mengembangkan perilakunya. Analogi yang dikemukakan adalah “genes setting the stage, and society writing the play”. Teori ini memberikan dasar bagi pemahaman periode kritis perkembangan dan perilaku melekat pada anak segera setelah dilahirkan.

5.Teori-teori Ekologi
Teori etologis menempatkan tekanan yang kuat pada landasan perkembangan biologis. Berbeda dengan teori etologi, Urie Bronfenbrenner (1917) mengajukan suatu pandangan lingkungan yang kuat tentang perkembangan yang sedang menerima perhatian yang meningkat. Teori ekologi adalah pandangan sosiokultular Bronfenbrenner tentang perkembangan, yang terdiri dari 5 sistem lingkungan mulai dari masukan interaksi langsung dengan gen-gen social (social agent) yang berkembang baik hingga masukan kebudayaan yang berbasis luas. Ke 5 sistem dalam teori ekologis Bronfenbrenner ialah mikrosystem, mesosyem, ekosistem, makrosistem dan kronosistem.

6.Orientasi Teoritis Eklektis
Tidak satupun toeri dapat menjelaskan kompleksitas perkembangan masa hidup yang kaya dan mengagumkan. Masing-masing teori memberikan sumbangan yang berbeda, dan barangkali strategi yang paling bijaksana adalah mengadopsi perspektif teoritis eklektis jika kita ingin memahami perkembangan masa hidup secara lengkap. Sebagai suatu perspektif, pandangan masa hidup mengkoordinasikan sejumlah prinsip teoritis tentang hakekat perkembangan. Dengan mempertimbangkan gagasan-gagasan tentang perspektif masa hidup bersama dengan teori-teori perkembangan yang ada, maka dapat diperoleh suatu rasa konsep teoritis yang penting dalam memahami perkembangan masa hidup.



Teori Psikodinamika

Sigmund Freud

Perhatian khusus Freud terhadap neurology mendorongnya mengadakan spesialisasi dalam perawatan orang-orang yang menderita gangguan syaraf. Untuk mempertinggi kecakapannya Freud belajar selama satu tahun kepada seorang ahli penyakit jiwa Perancis yang terkenal yaitu Jean Charcot.

· Struktur Kepribadian

Menurut Freud kepribadian terdiri atas tiga system atau aspek, yaitu:

1. Das Es (the Id), yaitu aspek biologis

Aspek ini adalah aspek biologis dan merupakan system yang original di dalam kepribadian, dari aspek inilah aspek yang lain tumbuh. Id berisikan hal-hal yang dibawa sejak lahir, termasuk instink-instink. Id berada dan beroperasi dalam daerah unconscious, mewakili subjektivitas yang tidak pernah disadari sepanjang usia. Energi psikis di dalam Id itu dapat meningkat oleh perangsang, baik dari luar maupun dari dalam. Apabila energi itu meningkat, maka lalu menimbulkan tegangan, dan ini menimbulkan pengalaman tidak menyenangkan yang oleh Id tidak dapat dibiarkan, karena itu apabila energi meningkat, yang berarti ada tegangan, segeralah Id mereduksikan energi itu untuk menghilangkan rasa tidak enak itu. Jadi yang menjadi pedoman dalam berfungsinya Id adalah menghindarkan diri dari ketidakenakan dan mengejar keenakan, inilah yang Freud namakan “prinsip kenikmatan” (pleasure principle). Untuk menghilangkan ketidakenakan dan mencapai kenikmatan itu Id mempunyai dua cara, yaitu:

a. refleks dan reaksi-reaksi otomatis: bersin, berkedip, dan sebagainya

b.   proses primer: orang lapar membayangkan makanan.

Akan tetapi jelas bahwa cara yang demikian itu tidak memenuhi kebutuhan, orang yang lapar tidak akan menjadi kenyang dengan hanya membayangkan makanan. Karena itu perlulah adanya system lain yang menghubungkan pribadi dengan dunia obyektif, yaitu melalui Das Ich atau Ego.

2.   Das Ich (the Ego), yaitu aspek psikologis

Aspek ini adalah aspek psikologis daripada kepribadian dan timbul karena kebutuhan organisme untuk berhubungan secara baik dengan dunia nyata.

Dalam fungsinya, Ego berpegang pada “Prinsip kenyataan” (reality principle) dan bereaksi dengan proses sekunder. Tujuannya adalah mencari objek yang tepat untuk mereduksikan tegangan yang timbul dalam organisme. Proses sekunder itu adalah proses berpikir realistis, dengan mempergunakan proses sekunder Ego merumuskan suatu rencana untuk pemuasan kebutuhan dan mengujinya untuk mengethaui apakah rencana itu berhasil atau tidak. Secara teknis hal inilah yang disebut reality testing.

Ego merupakan perantara antara kebuthan-kebutuhan instink dengan keadaan lingkungan namun dalam menjalankan fungsinya itu seringkali Ego harus mempersatukan pertentangan-pertentangan antar Ego dan Super ego.

3.   Das Ueber Ich (the Super Ego), yaitu aspek sosiologis

Merupakan aspek sosiologi kepribadian disebut pula sebagai aspek moral kepribadian. Fungsinya adalah menentukan apakah sesuatu benar atau salah, pantas atau tidak, susila atau tidak, dan dengan demikian pribadi dapat bertindak sesuai dengan moral masyarakat.

Super ego diinternalisasikan dalam perkembangan anak sebagai respons terhadap hadiah dan hukuman yang diberikan oleh orang tua dan pendidik yang lain. Dengan maksud untuk mendapatkan hadiah dan menghindari hukuman anak mengatur tingkah lakunya sesuai dengan garis-garis yang dikehendaki oleh orang tuanya. Mekanisme yang menyatukan system tersebut kepada pribadi disebut introyeksi. Jadi Super ego itu berisikan dua hal, yaitu “conscientia” yang menghukum orang dengan memberikan rasa dosa dan “Ich ideal” yang menghadiahi orang dengan rasa bangga akan dirinya.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar